Peristiwa

Longsor di Cisoka Rumah Milik Nenek 74 tahun Roboh

Cisoka – Bencana longsor yang terjadi di Kampung Selapajang, Desa Carenang, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang, membuat Juju meratapi kesedihan.

Bagaimana tidak, longsor membuat sebagian rumah milik nenek 74 tahun itu roboh. Adapun bagian yang roboh dan mengalami kerusakan parah ialah dapur dan kamar tidur pribadinya.

Dilansir Poskota, Juju lebih banyak termangu sambil duduk persis di belakang rumahnya yang ambles.

“Itu pak kamar saya dan dapur sudah enggak ada lagi roboh. Yang tersisa cuma segini doang dekat ruang tamu,” ujarnya sambil menunjukkan kondisi rumahnya, pada Minggu (31/1/2021).

Nenek empat cucu ini menceritakan sekilas kejadian longsor yang mengakibatkan sebagian rumahnya roboh, pada Jumat (29/1/2021) malam.

Juju menyatakan, perisitiwa longsor itu terjadi selepas dirinya salat magrib. Ia beranjak keluar dari kamarnya yang berada di belakang itu untuk mengepel di ruang depan.

Saat itu kondisi juga hujan lebat sejak sore hari dan ruangan depan bocor. Baru saja memegang alat pel, terdengar suara keras seperti benda besar jatuh.

“Suaranya keras banget seperti benda besar berjatuhan. Saya kaget, teriak dan istigfar menengok ke belakang sudah roboh. Kemudian gagang pel saya jatuhkan dan lari kedepan,” ungkapnya.

Juju mengaku, dirinya bersama empat cucunya berlari menyelamatkan diri. Ironisnya, salah satu dari cucunya itu terkena jatuhan genteng mengenai bagian kaki.

“Cucu saya yang usianya 16 tahun memang habis dari belakang mengambil pakaian. Kakinya kena genteng dan sempat berdarah-darah, tapi alhamdulilah enggak kena kepalanya,” sebutnya.

Juju menuturkan, longsor itu terjadi karena sungai Cidurian meluap. Hal itu yang kemudian membuat tanah di belakang rumahnya itu ambles.

“Malam itu saya sama cucu mengungsi di tetangga. Samping rumah saya juga terkena, dia juga mengungsi. Tapi kalau saya sekarang nempatin lagi,” ungkapnya.

Meskipun begitu, Juju juga masih khawatir longsor susulan terjadi lagi meluluhlantahkan rumahnya. Namun ia tetap memilih bertahan karena tidak punya tempat tinggal lain.

“Khawatir saya roboh lagi bagian ruang tamu. Saya sekarang tidurnya di ruang tamu. Kalau mau mengungsi bingung mau kemana,” paparnya.

Dia berharap pemerintah setempat bisa membenahi rumahnya agar kokoh. Selain itu, sungai Cidurian diharapkan bisa diberikan tanggul.

Pantauan awak media di lokasi, sungai Cidurian tidak memiliki tanggul untuk menahan air. Lokasi longsor itu juga dipenuhi banyak pohon bambu.

Sedikitnya, ada tiga rumah yang terdampak longsor tersebut. Namun, dari jumlah itu, hanya dua rumah mengalami rusak parah.

“Bantuan ada sembako doang, kayak beras, mie instans, gula dan lainnya. Saya mah berharap rumah saya dibuat kokoh agar enggak longsor lagi,” tandasnya. (PK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button